Official Website SMA Pangudi Luhur Santo Lukas Pemalang Official Website SMA Pangudi Luhur Santo Lukas Pemalang
  • 0284 - 324692 Telepon
  • info@smaplsantolukaspemalang.sch.id Email
  • Beranda
  • Profil
    • Profil Sekolah
    • Makna Logo
    • Guru
  • Kesiswaan
    • Ekstrakurikuler
    • Kegiatan Vokasi
  • Materi Belajar
  • PPDB Online
  • Artikel
  • Galeri
  • Video
  • Kontak
  • 30 September 2026
  • p3mud4
  • Artikel

Inspirasi

NGOPI DULU, BARU BELAJAR

 Oleh: Pak Lian Nalut



Setiap orang tentu saja punya konsep tersendiri tentang pelajar yang ideal. Misalnya, pelajar itu harus selalu fokus, tidak boleh terlalu bercanda dan santai, harus selalu terlihat sibuk, harus membangun citra di medsos,  menghafal rumus-rumus, mengunyah istilah, menomorsatukan buku daripada pacar, anak rumahan, tidak banyak nongkrong….(Teruskan sendiri).

Apapun itu, tapi pertanyaannya adalah benarkah pelajar harus selalu terlihat seserius itu agar dianggap punya masa depan?

Ketujuh pelajar ini; Natan, Angga, Sendi, Pradika, Estin, Rasya dan Ragil justru membuat saya melihat sisi yang berbeda. Keseharian mereka di sekolah tampak santai, bercanda, dan menikmati kebersamaan. Bahkan, sering kali mereka berbuat iseng hanya untuk membuat teman-temannya tertawa.

Di kelas pun, tidak ada kesan mereka sedang berlomba menunjukkan siapa yang paling pintar atau paling serius. Mereka hanya sedang menjadi murid yang berteman, tertawa, bergaya, dan menikmati hari-hari sekolah.

Lantas, kalau santai berarti tidak belajar? Tentu tidak. Mereka tetap serius dalam belajar. Hanya saja, mereka tampaknya menjauhi cara belajar yang harus selalu dengan wajah tegang dan bikin kita cepat tua.

Singkatnya, bagi mereka sekolah juga jadi ruang bersenang-senang, berteman, dan menjadi diri sendiri. Nah, ini hal sederhana yang bisa menjadi modal masa depan.

Pelajar Kok Harus Serius Terus?

Suatu ketika, saya mengajak salah satu dari mereka, Estin, ngobrol santai. Awalnya, saya bermaksud menasihatinnya supaya lebih serius dalam belajar.

“Tin, kamu kok santai sekali dalam belajar?”

“Itulah, Pak. Kebanyakan orang menjalani belajar cenderung serius, sampai lupa menghela napas, duduk, ngopi, lalu bersikap santai.” Jawabnya dengan tenang.

Saya langsung menyela.

“Lah, kalau terus-terusan santai, kapan serius belajarnya?” protes saya.

“Kalau terus-terusan sibuk belajar, kapan santainya, Pak?” tanyanya enteng.

Saya terdiam, dan kembali ke kamar. Percakapan itu malah membuat saya sadar setiap orang punya cara sendiri dalam memandang belajar.

Baru beberapa langkah, Estin menyusul dari belakang.

“Tiga tahun saya diam, saya dicela saya diam, saya difitnah saya diam. Tapi sekarang, saya akan lawan.”

Saya berhenti. Saya menoleh.

“Lawan siapa, Tin?”

“Pak, ngopi dulu, sebelum belajar ee.”

Percakapan kami pun pecah menjadi tawa.

Gimana, kita udah mirip Paulo Freire, belum? Ya, setidaknya kita jadi fans beratnya, setelah membaca beberapa pemikirannya. Konon, Paulo Freire itu dikenal di kalangan perempuan, bukan karena kumis putihnya yang tebal, tapi karena pemikiraan uniknya tentang kebebasan anak dalam pendidikan.

Freire melihat pendidikan sebagai dialog, bukan hubungan satu arah. Murid tidak hanya menerima pelajaran dari guru. Guru pun bisa belajar dari murid. Kalau dipikir-pikir, percakapan kita lumayan mendekati teori itu. Bedanya, dialog Freire mungkin serius dan kritis soal pendidikan. Sementara kami? Berdialog lewat obrolan santai, lalu berakhir dengan ajakan, ”Ngopi dulu, sebelum belajar.”


Kenapa harus Ngopi dulu, Baru Belajar?

Pertanyaan ini mengajak kita berpikir lebih jauh. Dan sebenarnya, ngopi itu apa? Apakah sekadar duduk, menyeruput kopi, lalu membuang waktu beberapa menit? Atau jangan-jangan, ngopi adalah cara sederhana untuk jeda dari kesibukan.

Ngopi barangkali telah menjadi habitus dan lifestyle anak muda zaman now. Terlebih saat malam minggu, ketika warung kopi menjadi salah satu tempat favorit untuk berkumpul, bercerita, atau sekadar menghabiskan waktu.

Ada yang datang karena kopinya, ada yang datang karena teman-temannya, dan ada pula yang sebenarnya tidak terlalu suka kopi, tetapi suka suasana dan obrolannya.

Ada juga yang datang karena tidak punya agenda lain, mungkin karena belum berhasil memikat hati seseorang beserta calon mertuanya, tapi tak masalah. Toh, jadi jomblo sekaligus penikmat kopi itu namanya jomblo berimajinasi. Artinya setiap sosok yang hadir dalam imajinasi adalah kekasih. Ya, begitu kata Angga.

Barangkali karena itulah kopi memiliki fungsi sosial yang istimewa. Di sana pertemanan terasa lebih akrab dan percakapan mengalir lebih lepas. Kita berbagi pengalaman, bertukar cerita, dan sesekali mengenang masa lalu yang entah mengapa selalu terasa lebih indah setelah ditemani secangkir kopi.

Bahkan, bagi sebagian orang, ngopi menjadi momen latihan kecil soal pengorbanan diri. Tahukah Anda, bahwa biaya traktir lima orang teman di cafe rooftop bisa setara dengan uang makan untuk satu minggu? Ini sih terserah manteman, mau ujicoba atau tidak. Intinya, mikir dulu sebelum bilang, “sini saya bayarin”. Jangan sampai pulangnya malah sibuk mikir cicilan. Kadang, ketenangan justru datang bukan dari banyaknya yang kita keluarkan, tapi dari bijaknya kita memilih momen.

Dengan demikian, ngopi bagi Estin Crew bukan sekadar soal minum kopi, tetapi bisa memiliki beberapa makna:

Pertama, ngopi itu adalah saat santai. Santai itu tidak serta-merta berarti malas. Santai sambil ngopi juga tidak otomatis berarti membuang waktu. Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak dari kesibukan, menghela napas, bercanda dengan teman, lalu kembali menghadapi buku, tugas, dan segala tuntutan yang menunggu. Jadi, inti persoalannya adalah apakah seseorang tahu kapan harus santai dan kapan harus serius.

Kedua, ngopi adalah perekat persahabatan dan ruang bertukar ide. Demikian pun dalam hal belajar, mesti didukung dengan suasana nyaman dan bersahabat. Kenapa itu penting? Belajar akan bahagia jika suasananya santai dan akrab, sehingga otak lebih mudah menerima informasi. Ini juga mendorong adanya diskusi, seseorang bisa saling menjelaskan dan bertanya.

Ngopi bareng teman yang suportif membuat motivasi belajar juga akan meningkat, karena tidak mudah bosan. Pada akhirnya, hal ini membuat materi pelajaran lebih mudah dipahami karena proses belajar dilakukan bersama, bukan secara sendirian terus-menerus.

Ketiga, lebih dari itu, ngopi sebenarnya sebuah cara hidup. Mungkin, inilah yang saya sebut sebagai “gaya hidup ngopi”. Tahu kapan belajar, kapan beristirahat, kapan berkumpul, dan kapan tertawa bersama teman. Dan bukan malas. Bukan pula kehilangan arah.

Di sekolah, orang yang memili gaya hidup seperti ini, biasanya biasanya terlihat santai, tapi tetap punya prioritas. Mereka bisa menikmati tongkrongan tanpa harus bolos dari sekolah. Bisa bercanda tanpa melupakan tanggung jawab. Bisa punya pergaulan luas tanpa kehilangan arah. Bagi mereka, bergaul dan bersosialisasi dengan guru, teman dan orang lain, itu sama pentingnya dengan buku-buku pelajaran.

Bagi mereka menjadi pelajar bukan hanya tentang seberapa banyak tugas yang selesai atau seberapa tinggi nilai yang diperoleh. Ada juga keterampilan lain yang barangkali tidak tertulis di rapor: tahu cara berteman, tahu cara membuat orang tertawa, mengambil hati guru disaat nilai rendah, tahu cara beristirahat, dan tahu bahwa belajar tidak harus dijalani dengan wajah serius, dan tensi darah meninggi setiap hari.

Mereka juga emiliki cara berpikir yang lebih terbuka (open-minded), terutama dalam memandang belajar. Prinsipnya sederhana, bahagia dan bergaul, tetapi belajar tetap menjadi yang utama. Menikmati, mempelajari, lalu mencoba mengaplikasikan apa yang dipelajari dalam kehidupan nyata, setidaknya dimulai dari lingkungan pertemanan sendiri.

Nah, mungkin inilah filosofi ngopi sederhana yang sering kita lewatkan.

Menjalani “Filosofi Ngopi”

Apakah cara hidup Estin crew itu terasa penting dan relevan bagi pelajar hari ini? Tentu saja, gengs! Saya akan menyoroti dua fenomena saja. Boleh saja Anda tidak setuju.

Tekanan Menjadi diri Ideal

Pelajar sekarang memandang dirinya bukan hanya dari urusan akademik.  Ada pula ukuran-ukuran lain yang ikut membentuk cara mereka melihat diri sendiri dari media sosial. Saldo rekening, punya cewek cantik atau cowok yang dianggap effort, motor keren, penampilan necis, pemikiran yang terlihat “elit”, hingga orang tua yang selalu support.

Apakah salah memiliki semua itu? Silakan saja. Yang menjadi persoalan adalah ketika hal-hal tersebut mulai dianggap sebagai ukuran keberhasilan atau standar harga diri. Akibatnya muncul tekananan, harus keren, harus terlihat bahagia, harus punya pencapaian, dan harus selalu tampak baik-baik saja. Padahal yang ditampilkan di media sosial sering kali hanya sebagian dari kehidupan seseorang. Yang kita lihat menyenangkan, bisa jadi menyimpan banyak kepahitan dalam hidupnya. Sedangkan yang kita lihat penuh masalah, bisa jadi banyak kebaikan yang sebenarnya dia terima.

Nah, di sinilah gaya hidup “ngopi” menjadi menarik. Ia menawarkan cara pandang yang lebih sederhana. Tidak perlu terlalu sibuk menjadi versi terbaik menurut ukuran orang lain. Ada waktu untuk santai, berteman, bercanda, berpikir, lalu kembali belajar dengan pikiran yang lebih ringan.

Kalau dalam bahasanya Sendi;

Jangan membuat hidup menjadi makin rumit. Belajar saja sudah cukup rumit. Ada tugas, ujian, nilai, target, dan berbagai tuntutan akademik yang harus dihadapi. Lantas, mengapa kehidupan di luar belajar juga harus dibuat serumit itu? Kalau berteman, ya berteman. Cari suasananya, bukan standarnya. Ngopi, ya ngopi. Nikmati obrolannya, bukan harga tempatnya. Wissh..geprak gak tuh.

Terus, kalau ada yang komen kita dari belakang, gimana? Tidak perlu sibuk kepo siapa yang membicarakan kita di belakang. Pada kenyataannya, setiap orang juga sibuk dengan hidupnya masing-masing. Mana sempat memperhatikan hidup orang lain. Mungkin, ngopi mengajarkan hal sederhana. Nikmati meja kita sendiri. Tidak perlu terus-menerus melirik meja sebelah.

Belajar hanya Mengejar Hasil

Belajar untuk mengejar nilai, prestasi, dan pencapaian tentu tetap penting. Namun, jangan sampai karena terlalu serius mengejar semua itu, kita justru menjadi stres dan lupa bahagia. Nah, kalau kalau kita diposisi itu sekarang, penuh ketegangan dan sedikit waktu bermain, mungkin, kita perlu kembali pada filosofi ngopi.

Artinya, belajar memang tetap serius, tapi kehidupan tidak harus selalu tegang. Nilai itu penting, tetapi jangan lupa bahagia.

Sehungan dengan itu, saya ingat Nel Noddings, pemikir hebat Amerika, yang banyak membahas hubungan antara kebahagiaan dan pendidikan dalam bukunya Happiness and Education. Bagi Noddings, kebahagiaan bukan sesuatu yang baru boleh dicari setelah seseorang selesai sekolah atau mencapai kesuksesan. Kebahagiaan juga layak menjadi bagian dari tujuan pendidikan.

Nah, kalau sekolah hanya membuat anak pintar, lalu kapan anak belajar menjadi bahagia?

Tapi, menjadi bahagia itu juga ada rumusnya, gaes.

Caranya? Nyari aja sendiri.

Yang jelas, jangan lupa ngopi hari ini, sebelum atau sesudah belajar.

 

*******

 

Prev PostBKSN 2026
Next PostInspirasi
Related Posts
  • Pesta Pelindung Sekolah, SMA Pangudi Luhur Santo Lukas Pemalang 18 Oktober 2025
  • ✨ UNDANGAN TERBUKA: PESTA PELINDUNG SEKOLAH, SUMPAH PEMUDA & BULAN BAHASA 2025 ✨ 16 Oktober 2025

Useful Links

  • Home
  • Portfolio
  • Ekstrakurikuler
  • Prestasi
  • Profil Sekolah
  • Ekstrakurikuler
  • Blog
  • Profil Sekolah
Copyright © 2020 - SMA Pangudi Luhur Santo Lukas Pemalang, All rights reserved.