REFLEKSI
Duc In Altum : Eksistensi Doa dan Implikasi Terhadap Kehidupan Religius Sebagai Umat Katolik

Vinsen Christanto
“Doa tidak bekerja secara langsung dan spektakuler, tetapi sederhana dan memberi dampak nyata bagi orang yang meyakininya”
Eksistensi Doa
Sejak manusia diciptakan sesuai gambar dan citra Sang Pencipta, dimulailah relasi spiritual mendalam dikedua belah pihak. Adam dan Hawa sering dipahami sebagai titik awal munculnya kesadaran manusia secara holistik. Sehingga berabad-abad kemudian, muncul pemahaman spiritual dalam berbagai bentuk dan terintegrasi dengan lembaga religius setempat.
Dalam pemahaman tersebut manusia digambarkan hidup dalam kelekatan batin dengan Sang pencipta, sebagai representasi dari harmoni antar dimensi dan moralitas manusia secara fundamental. Keadaan tersebut mulai membawa manusia pada kebebasan akal dan budi secara komprehensif, sehingga menimbulkan berbagai gejolak dalam dinamika spiritual. Kebebasan tersebut mendorong manusia untuk mencari, memperoleh serta menafsirkan pemahaman spiritual dari Sang Pencipta.
Proses pemahaman spiritual menjadi bukti konkrit manusia dalam menafsirkan hubungan yang transenden. Kesadaran akan Tuhan tidak sekedar hubungan personal, melainkan hubungan kolektif yang terus berkembang secara historis maupun simbolik. Perwujudan tersebut menghasilkan berbagai ritus religius, regulasi dan kitab suci yang menjadi pedoman dan memelihara hubungan dengan Sang Pencipta. Sehingga menghasilkan bentuk ritus religius yang menjadi pedoman kolektif dalam wilayah, sosial-budaya, serta sejarah setempat.
Seluruh perjalanan spiritual yang semula personal dan sederhana, secara perlahan terintegrasi dengan struktur masyarakat melalui lembaga religius. Lembaga ini menjadi pusat praktik keagamaan, melainkan pelindung moral, komunitas dant tradisi yang menjadi identitias kolektif.
Pengalaman Iman Pribadi
Menjalankan kebiasaan doa menjadi rutinitas harian dalam hidup saya sebagai umat Katolik. Kelekatan hubungan religius telah mengakar kuat dalam keluarga yang menjadi guru pertama dalam praktik pemahaman spiritual. Doa adalah Sumber Kekuatan. Frasa tersebut menjadi pedoman yang sering terdengar dalam keluarga, pendalaman iman, hingga Perayaan Ekaristi.
Sebenarnya tidak memiliki dampak apapun dalam kehidupan harian tetapi, frasa tersebut menjadi manifestasi Iman Katolik yang transenden. Bagi saya, kebiasaan doa menjadi sarana komunikasi spiritual dengan Tuhan sebagai makhluk ciptaan. Doa seakan-akan menjadi tumpuan moral sebagai manusia yang sewajarnya manusia, sehingga tidak terjadi gejolak antar dimensi yang merugikan sesama.
Lantas, jika praktik doa mati, apakah masih layak disebut beriman? Pertanyaan tersebut sering terlintas dalam benak pikiran saya sebagai umat beriman yang berdampingan dengan praktik tersebut.
Seperti Rusa yang Rindu Akan Air. Itulah representasi jawaban jika praktik doa meredup, atau tidak ada sama sekali. Doa layaknya air yang memberikan kesegaran jiwa dalam menjalani dinamika kehidupan yang penuh akan gejolak.
Dalam perjalanan hidup, manusia seringkali menghadapi berbagai gejolak yang dapat menguras kepercayaan yang telah mengakar sejak lahir. Saat seperti ini, doa menjadi ruang kesegaran iman dalam memulihkan jiwa dan raga manusia. Melalui doa, manusia tidak hanya menyampaikan pengharapan, melainkan melihat peluang setelah mengalami pemulihan batin untuk melanjutkan perjalanan hidup.
Selain itu, doa juga menjadi kesegaran ketika manusia berhadapan dengan dinamika kehidupan kompleks yang menguras iman. Melalui bentuk ketenangan manusia menyadari betapa rapuhnya dia sebagai ciptaan Sang Pencipta yang sempurna. Dalam keheningan, manusia diajak untuk berefleksi akan keseluruhan hidupnya bukan sebagai beban, tetapi proses pendewasan spiritual yang matang.
Jika doa menjadi pedoman spiritual, apakah ada bukti konkrit? Pertanyaan serupa juga kerap muncul dalam benak pikirian, sehubungan dengan eksistensi doa. Saya mempunyai sebuah pengalaman menjadi bukti konkrit eksistensi doa transenden. Saat menginjak bangku Sekolah Dasar, saya bersama Ibu berangkat menuju Gereja Santo Lukas untuk merayakan misa Jumat Pertama.
Saat berangkat dan mengikuti perayaan Ekaristi, semuanya berjalan lancar. Kemudian ketika hendak pulang menuju rumah, tiba-tiba dari belakang motor yang dikendarai Ibu saya tertabrak mobil hingga kami terjatuh cukup keras ke arah kiri jalan raya. Dampaknya? Saya harus menerima empat jahitan di dahi, dan Ibu saya mengalami retak tulang dada. Tak lama kemudian, kami dilarikan ke Rumah Sakit Santa Maria untuk menjalani perawatan segera.
Malamnya, ketika saya haus dan hendak meminum dari botol yang dibawa Ibu, Ibu berkata bahwa botol tersebut pecah ketika tabrakan terjadi. Waktu itu saya hanya kecewa dan tidak berpikiran apapun terkait hal tersebut. Namun, saat menginjak kelas 5 Sekolah Dasar, saya tersadar bahwa pecahnya botol saat tabrakan bukanlah keberuntungan semata, melainkan keajaiban Tuhan dalam menyelematkan nyawa Ibu serta Saya. Mungkin, jika botol tersebut tidak pecah dan tetap utuh, maka akan ada tragedi besar yang menimpa keluarga saya waktu itu, Hilangnya nyawa Saya atau Ibu dalam peristiwa tersebut.
Perisitwa tersebut menjadi bukti konkrit bahwa doa adalah sumber kekuatan bagi manusia dalam perjalanan kehidupan. Doa tidak bekerja secara langsung dan megah, melainkan bersifat sederhana tetapi dampaknya nyata bagi manusia yang meyakininya.
Duc In Altum
Duc In Altum merupakan frasa bahasa Latin yang memiliki makna mendalam terkait konteks Spiritual, artinya “bertolaklah ke tempat yang dalam.” Kalimat tersebut muncul ketika Yesus memerintahkan Lukas untuk menebarkan jala ke lautan dalam setelah semalam tidak menghasilkan apa-apa (Lukas 5:1-11). Frasa tersebut kemudian menjadi simbol kedalaman untuk mencari serta menafsirkan Iman sebagai pondasi moralitas manusia.
Dalam konteks doa, duc in altum merupakan representasi dari kedalaman doa seseorang terhadap Tuhan sebagai Sang Pencipta. Kedalaman itu bukanlah komunikasi belaka, melainkan hubungan intim yang telah terjalin sejak Adam dan Hawa, dan terus diwariskan hingga saat ini. Selain itu, frasa tersebut mengandung ajakan untuk tidak berhenti pada luarnya, melainkan dalamnya iman untuk melangkah berani dalam permenungan dan penyerahan diri total kepada Tuhan.
Integrasi duc in altum dalam kehidupan saya sangat dinamis, bahkan halus sebagai umat katolik. Kedalaman dalam doa telah menjadi kesadaran yang diwariskan turun-temurun dalam keluarga, sebagai guru pertama spiritual. “Bersungguh-sungguh” dan “Percaya” menjadi dua kalimat yang sering terdengar ketika praktik doa harian.
Kedua kalimat tersebut mendorong saya untuk terus mencari esensi doa sebagai sarana komunikasi sakral dengan Sang Pencipta. Pada awalnya, pencarian tersebut nihil, sebab saya belum menemukan kedalaman doa bagi kehidupan saya. Namun, terdapat peristiwa penting ketika saya diumumkan berhasil masuk ke Seminari Menengah untuk melanjutkan studi, baik akademik maupun spiritual Iman Katolik.
Dalam proses formasi, saya perlahan menemukan jawaban atas kedalaman doa yang menjadi tradisi selama berabad-abad. Dalam formasi sebagai seminaris saya perlahan mulai menemukan jawaban dari makna kedalaman tersebut, tetapi masih abstrak. Kebiasaan seperti Ekaristi harian sampai refleksi malam, menjadi sarana untuk menemukan esensi dari doa itu sendiri. Saat itulah saya mulai menemukan kedalaman nyata sehingga membuka pemahaman selama ini.
Pengalaman tersebut semakin nyata ketika memasuki tahun kedua dan tahun ketiga. Seluruh kebiasaan doa mulai diajarkan untuk menemukan bentuk yang sesuai pribadinya. Saat itulah saya mulai menumukan kepingan makna duc in altum melalui meditasi serta retret Incorporatio maupun Electio sebagai proses pengenalan dan peneguhan panggilan.
Dalam kedua retret tersebut saya mulai menemukan secara utuh esensi doa sebagai komunikasi langsung kepada Tuhan dalam menentukan arah panggilan. Kedalaman tersebut tidak memiliki dampak instan, melainkan perlahan tetapi nyata sebagai seminaris. Desolasi dan Konsolasi menjadi pengalaman nyata bagi saya ketika menjalani formasi panggilan. Rasa menjauh dari Tuhan, gelisah atau disebut desolasi sering saya hadapi ketika memandang doa sekedar formalitas belaka. Kekeringan spritiual yang muncul membuat kebiasaan refleksi maupun doa komunitas tidak dihidupkan secara optimal seharusnnya seminaris.
Ketidakpercayaan terhadap Tuhan juga sering muncul sebagai dampak desolasi ketika tidak ada jawaban pasti mengenai arah panggilan yang transenden. Teguran dan hukuman menjadi konsekuensi yang diterima ketika desolasi dibiarkan begitu saja. Sebaliknya ketika mengalami kepenuhan rohani atau disebut Konsolasi, rasa kegirangan untuk melakukan kebiasaan refleksi atau doa tidak akan lelah sama sekali. Konsolasi terjadi ketika mendapatkan sebuah jawaban mengenai arah panggilan tersebut. Seperti memanfaatkan fasilitas Seminari untuk pelayanan secara penuh maupun dialog dengan umat disekitar ketika Ekaristi Mingguan.
Hubungan Spiritual Horizontal-Vertikal
Tradisi religius dalam bentuk doa telah mengakar kuat selama berabad-abad sebagai warisan iman dalam memahami eksistensi iiman itu sendiri. Hubungan manusia, sesama dan Tuhan menjadi Triangle spiritual dalam menentukan praktik ketiganya.
Premis itu tidak hanya dipahami sebagai devosi, melainkan transformasi spiritual secara utuh. Dalam relasi vertikal bagi saya, doa menjadi pembimbing kepada Tuhan sebagai sumber kehidupan. Tetapi relasi didalamnya tidak berjalan lancar, terdapat pengalaman desolasi sebagai tantangan dalam menjalani praktik doa harian.
Pengalaman yang saya rasakan, seperti malas untuk mengikuti perayaan Ekaristi mingguan, adanya rasa kekosongan batin, bahkan keterasingan dari Tuhan yang berlarut-larut. Bagi saya desolasi menjadi implikasi serius ketika komunikasi tidak terjalin dengan baik, hingga menciptakan kehampaan rohani yang merusak keyakinan Iman secara perlahan. Posisi doa menjadi sangat krusial, karena diuji dan dijadikan wadah kebencian emosional saya ketika menghadapi ketidakpercayaan Iman yang dalam akan kehadiran Tuhan.
Sebaliknya pengalaman konsolasi yang saya alami, membawa kesegaran rohani secara utuh sebagai ciptaan Tuhan. Secara tidak langsung akan menyebabkan efek domino, dimana umat disekitar turut mengikuti kegiatan rohani yang dilakukan. Seperti pelayanan Koor, aksi sosial, pembinaan Iman Anak maupun Remaja.
Dalam momen tersebut, doa menemukan posisinya sebagai pondasi Iman manusia yang penuh makna suci, Pengalaman konsolasi tidak berfungsi sebagai penghiburan semata, tetapi peneguhan relasi dengan Tuhan, seperti siang dan malam, kelahiran dan kematian. Dari sinilah, hubungan vertikal tidak berfokus pada pengalaman religius, melainkan berkembang menjadi relasi Iman yang nyata dan penuh akan refleksi.
Hubungan horizontal merupakan aksi konkrit yang diwariskan secara evolusioner melalui proses timbal-balik antar manusia. Doa tidak hanya mendukung dimensi spiritual saja, tetapi juga dimensi fisik manusia sebagai simbol kemanusiaan. Pengalaman yang telah saya alami, seperti aksi sosial, dialog antaraumat maupun agama. Kedalaman perjumpaan dengan Tuhan tidak terbatas pada spiritual, melainkan bentuk kepedulian, kasih terhadap sesama yang membutuhkan.
Perkataan Romo Mangun, “Dadi Manungsa Sing Lumrahe Manungsa”, menjadi aksi nyata kedalaman doa sebagai jembatan sosial serta moral. Perilaku seharusnya manusia juga hasil dari kedalaman iman yang telah bermanifestasi sebagai bentuk kepedulian totalitas terhadap sesama. Sehingga manusia tidak lagi melihat sesama dalam “bentuk lain” bahkan merendahkan, melainkan sesama ciptaan yang memiliki martabat serta dihadapan Tuhan.
Lebih dalam lagi, keterkaitan desolasi dan konsolasi juga memengaruhi perilaku manusia membangun relasi dengan sesamanya. Pengslaman desolasi membuat seseorang cenderung gelisah, dan menjauh dari keramaian sosial. Sebaliknya, konsolasi membuat seseorang merasa mencintai sesamanya secara tulus dan tanpa pamrih. Dengan demikian, kedua hubungan tersebut sangat dipengaruhi oleh pikiran diri sendiri serta ketengangan yang menjadi elemen krusial bagi manusia menemukan eksistensi sebagai ciptaan Tuhan.
Pada akhirnya, doa menjadi jembatan antar dimensi menuju harmonisasi dimensional. Relasi dengan Tuhan yang sakral selalu menemukan suasana dalam tindakan konkrit pada sesama, sementara relasi antar sesama yang didasarkan pada cinta kasih akan membentuk kedalaman spiritual dengan Sang Pencipta. Maka, doa akan menemukan kedalaman atas eksistensinya bukan sebagai konsep, melainkan praktik kolektif yang berdampingan dengan kehidupan manusia yang dinamis.
********

