Esai Reflektif
Barangkali, Kita Hanya Perlu Diam
Oleh: Pak Lian

Kita patut berutang budi pada Blaise Pascal, anggap saja leluhur intelektual yang hidup sebelum kita lahir, tetapi sudah lebih dulu curiga bahwa manusia memang sudah diam. Dalam bukunya, Pensees, ia mengamati bahwa manusia sulit duduk diam dengan tenang di dalam kamarnya sendiri. Kita terus mencari kesibukan, dan tidak ingin berhadapan dengan pikiran dan kegelisahan kita sendiri.
Kita dapat melihat gejala itu dalam kehidupan sehari-hari. Coba lihat, betapa gelisahnya saat kita sendirian. Kita buru-buru mencari hiburan. Saat mulai sunyi kita mencari keramaian. Seolah-olah, ada sesuatu yang harus segera dilakukan agar kita tidak perlu terlalu lama dengan kesendirian. Bahkan, kalau dipikir-pikir, kita sekarang lebih takut sendiri daripada salah memilih orang.
Mungkin karena itulah, healing jadi gaya hidup sekarang (boleh Anda tidak setuju). Capek sedikit langsung bilang, “aku butuh ketenangan batin”. Langsung pergi, entah ke mana, yang penting jauh dari masalah atau minimal jauh dari kerjaan. Saat mulai membaik, kita pasang story dengan caption bijak, “dunia ini seluas langkah kaki” Terus di bawahnya “komen ya bestie, biar keliatan aku strong.” Sayangnya, ketenangan itu kadang cuma bertahan sebentar. Lalu besoknya capek lagi, dan siklus healing pun kembali ulang. Episode berikutnya segera tayang.
Tak sedikit pula yang menghabiskan waktu yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit, hanya untuk healing. Berbagai tempat wisata pun diserbu. Termasuk dari versi yang paling sederhana, yaitu tempat tidur bagi kaum rebahan.
Nah, kalau kita mulai heran melihat teman atau kekasih yang sibuk menghabiskan waktu atau umur untuk rebahan, tidak perlu bereaksi berlebihan. Cara sederhana melawan mereka adalah dengan tidak menjadi seperti mereka. Cukup berjalan sesuai ritme kita sendiri. Lalu, tetap menjaga semangat dan prioritas hidup.
Pertanyaan selanjutnya, sebenarnya healing itu apa? Apakah ia bisa mengatasi kegelisahan manusia zaman ini? Atau ia sekadar pelarian yang kita lakukan berulang-ulang?
Istilah healing tampaknya mengalami pergeseran makna. Pada awalnya, healing adalah proses penyembuhan diri. Sifatnya pribadi, butuh waktu, dan menjadi momen untuk berdamai dengan masa lalu. Tujuannya adalah mendapat ketenangan hati.
Namun kini, healing sering berubah makna. Healing sering kali hanya menjadi refreshing, nongkrong atau sekadar rehat. Sehingga waktunya singkat dan instan.
Sebenarnya, kebutuhan untuk healing muncul kelelahan kita menghadapi hidup. Kita penat, lalu mencari tempat untuk menangkan diri. Apalagi di zaman sekarang, tak sedikit yang terobsesi dengan hiburan dan kesenangan sesaat. Seolah itulah makna kebahagiaan sejati. Sehingga tidak heran kalau tempat wisata menjadi pelarian yang dianggap paling efektif.
Bahkan, sebagian orang berwisata tidak hanya di dalam negeri, tapi juga luar negeri. Saat pulang, mereka bukan saja membawa koper dan foto, tetapi juga gaya hidup baru. Lalu ramai-ramai jadi Korea, Arab dan Amerika. Ukuran keren pun bergeser. Mulai dari pasangan, makanan dan gaya berpakaian harus serba kekoreaan atau kebarat-baratan.
Padahal tidak semua yang tampak keren sesuai dengan kita. Kadang, kita mudah tergoda dengan “selera impor” lalu lupa menghargai tanah tempat kita berasal: Indonesia.
Itulah mengapa kita perlu memilih menjadi Indonesia, daripada menjadi yang lain. Apa sebab? Mencari ketenangan batin di Korea mungkin terkesan elit. Tapi mesti kita sadari bahwa ketenangan di Korea hanya untuk orang Korea.
Lalu, ketenangan bagi kita sangat boleh jadi di pangkuan Indonesia. Indonesia adalah tempat kita berpijak dan memulai hidup berkualitas. Jika demikian, setiap kali kita bermimpi untuk tinggal di tempat lain, pada saat yang sama kita menjauhkan diri dari kebahagiaan kita sendiri.
Jadi, healing ke mana pun memang terkesan menyenangkan. Tetapi jujur, apakah semua perjalanan itu dapat menyentuh luka terdalam diri kita? Apakah itu membantu kita menerima masa lalu, mengolahnya lalu sungguh-sungguh berubah? Atau jangan-jangan, itu hanya pelarian? Jika healing hanya soal refreshing, maka ia tak lebih dari jeda, bukan pemulihan.
Sehubungan dengan itu, pendekatan spiritual amat penting. Bagi sebagian orang healing yang paling bermakna justru dimulai dari tugas hakiki kita sebagai orang beriman, yaitu berdoa. Mengapa? Sekurang-kurangnya karena dua alasan berikut:
Pertama, karena hubungan terpenting manusia adalah hubungan dengan Tuhan. Tidak mesra dan akrab dengan-Nya, berarti merencanakan hidup yang kacau balau. Ketika relasi ini diabaikan, jiwa bisa terasa kosong dan sulit menemukan ketenangan dari dalam.
Akibatnya, kita sering kali mencari hiburan di luar diri. Baik untuk membuat diri senang, melepas lelah maupun menghindari rasa sakit. Kadang, yang lelah bukan tubuh kita, tapi jiwa yang terlalu jauh dari Tuhan.
Sering kali kita merasa Tuhan itu jauh. Lalu, ketika tertimpa masalah hidup, justru Tuhan disalahkan, bahkan mempertanyakan Keberadaan-Nya. Jika demikian, Tuhan akan semakin sulit ditemukan di tengah ketidakpastian hidup ini, terutama di kota-kota yang bising dengan knalpot-knalpot dan hiruk pikuk beban hidup.
Sebenarnya, Tuhan itu ada di mana-mana. Setiap detik, menit, hari, peristiwa yang kita alami adalah momen-momen kehadiran-Nya. Saat kita merasa sendiri, jangan keburu merasa sepi. Bisa jadi Tuhan sedang duduk diam menemani kita. Ketika kita sibuk mengunggah kebahagiaan di media sosial, jangan-jangan Tuhan lebih tertarik dengan isi hati kita yang lelah. Ketika kita tertawa dengan keras, Tuhan mungkin satu-satunya yang melihat betapa sepinya hidup kita.
Bahkan, ketika kita sedang berdua, Tuhan pun hadir sebagai pihak ketiga yang diam-diam menjaga. Dan, sebelum hubungan itu sampai ke pelaminan, Tuhan mungkin telah merestui dua hati untuk saling menyatu. Jadi ya “imani cintamu, cintai imanmu”.
Kedua, beragam healing yang kita buat selain doa, sering kali menunjukkan bahwa kita masih mengandalkan diri sendiri mengatasi kelelahan hidup. Kita kurang memberi ruang bagi rahmat dan bimbingan Tuhan. Padahal, tidak semua kelelahan dan luka dapat disembuhkan dengan tiket pesawat, melainkan dengan hati yang kembali bersama Tuhan.
Lantas, bisakah kita berdoa di tengah kebisingan dunia sekarang?
Tentu Bisa.
Caranya?
Diam.
Hmm…Terus?
Hening.
Udah, cukup disitu aja?
Ya…nikmati keheningan itu.
Jangan biarkan orang lain menganggu Anda, supaya Anda dan Tuhan tak lagi ada rahasia.

Saat kita merasa sendiri, jangan keburu merasa sepi. Bisa jadi Tuhan sedang duduk diam menemani kita.
*****

