cerpen
Jika Kita Bertemu Lagi Di Braga

Oleh: Prima
Hi, namaku Rembulan Primayu. Aku biasa dipanggil Bulan. Aku lahir dan tumbuh dalam sebuah keluarga sederhana, di sebuah kota kecil bernama Pemalang, di Jawa Tengah.
Masa kecilku sebenarnya tidak begitu spesial. Aku bukan anak yang mudah berteman. Aku lebih menghabiskan waktu sendirian di rumah, nonton, membaca buku, atau sekedar duduk di teras sambil memperhatikan anak-anak seusiaku bermain.
Sampai suatu hari, seorang anak laki-laki datang ke dalam hidupku, membawa warna baru pada hidupku. Sebut saja namanya Rivano. Ia adalah anak dari Bandung yang selalu datang ke rumah neneknya setiap liburan sekolah. Rumah neneknya berada tepat di samping rumahku. Setiap kali ia datang, rasanya halaman rumah yang biasanya sepi mendadak jadi ramai. Yah, dia memang peramah, dan itu sebabnya dia disukai banyak orang, termasuk diriku.
Sejak kami berteman, kami menghabiskan waktu bersama. Kami bersepeda mengelilingi kota, membeli jajanan di warung dekat rumah, dan terkadang hanya duduk di gang sambli bercerita tentang hal-hal yang sebenarnya tidak penting.
Kami tidak pernah tahu bahwa kebersamaan sederhana itu kelak menjadi kenangan yang paling sulit dilupakan. Aku masih ingat hari ketika kami berusia sembilan tahun. Sore itu, Rivano datang menghampiriku sambil membawa dua es krim.
”Bulan!”
Aku menoleh.
Ia mengangkat salah satu es krim di tangannya.
”Ini buat kamu.”
Aku menerimanya dengan wajah berbinar.
”Serius?”
”Iya. Aku beli dua.”
”Kok tahu aku suka rasa ini?”
Rivano tertawa kecil. “Ya tahu lah. Kamu setiap beli es krim pasti pilih yang itu.”
Aku ikut tertawa.
Kami kemudian duduk di teras rumah neneknya. Sore itu angin berembus pelan, membawa suara anak-anak yang sedang bermain di kejauhan. Rivano mulai bercerita tentang Bandung.
”Kalau kamu ke Bandung, kamu bakal suka.”
”Memangnya Bandung sebagus apa?”
”Bagus banget. Banyak tempat keren. Ada gedung-gedung tua, jalan yang ramai, udara yang dingin”
Ia bercerita dengan penuh semangat. Matanya berbinar seolah-olah seluruh kota Bandung ada di dalam kepalanya. Aku hanya mendengarkan. Dana entah mengapa, saat melihat wajahnya yang begitu bersemangat, jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
Aku tidak mengerti perasaan itu. Aku masih terlalu kecil untuk memahami apa artinya menyukai seseorang. Namun ternyata, perasaan itu tidak pernah benar-benar pergi. Sejak sore itu, diam-diam aku mulai menyukai Rivano. Tahun-tahun berlalu. Kami tumbuh bersama, meskipun tidak selalu berada di tempat yang sama.
Saat SMA, kami mulai sibuk dengan sekolah masing-masing. Pertemuan yang dahulu bisa terjadi hampir setiap hari ketika liburan berubah menjadi sesuatu yang jarang. Meski begitu, kami tetap berhubungan. Kadang Rivano mengirim pesan hanya untuk bertanya bagaimana hariku. Kami tetap berteman.
Hanya saja, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Aku masih menyukainya. Aku pernah beberapa kali ingin mengatakan perasaanku. Namun setiap kali kesempatan itu datang, keberanianku menghilang. Jadi aku memilih diam. Aku menyimpan perasaan itu sendirian.
Waktu terus berjalan. Kami akhirnya lulus SMA dan diterima di universitas yang kami impikan. Rivano menjadi mahasiswa Teknik Industri di Institut Teknologi Bandung, sementara aku diterima di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kami kembali berada di kota yang sama. Bandung. Kota yang dahulu sering Rivano ceritakan kepadaku ketika kami masih berusia sembilan tahun. Lucunya, sekarang aku benar-benar berada di sana. Kadang aku berpikir, mungkin tanpa sadar aku telah mengikuti cerita yang dahulu pernah ia ceritakan kepadaku.
Suatu sore, setelah pulang dari kampus, Rivano mengajakku bertemu ke tempat yang sudah sangat akrab bagi kami. Braga. Aku selalu menyukai Braga. Mungkin karena tempat ini mengingatkanku pada Bandung. Atau mungkin karena setiap kali berada di sini, aku selalu merasa bahwa ada bagian kecil dari masa kecilku yang kembali hidup.

Kami berjalan berdampingan. Anehnya, malam itu kami justru lebih banyak diam. Biasanya Rivano selalu memiliki sesuatu untuk diceritakan. Namun kali ini, ia tampak berbeda. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu.
”Riv, Kamu kenapa?”
Ia berhenti berjalan. Aku ikut berhenti. Rivano menatap jalan di depan kami selama beberapa detik sebelum akhirnya menatapku.
“Bulan, Sebenarnya… ada sesuatu yang ingin aku bilang dari dulu.”
Aku menunggu.
”Sejak kita SMA, aku suka sama kamu.”
Dunia seperti berhenti beberapa detik. Aku hanya menatapnya. Kalimat yang selama bertahun-tahun hanya berani kuucapkan di dalam hati, akhirnya keluar dari mulut orang yang paling tidak pernah kuduga akan mengatakannya terlebih dahulu.
”Kamu serius?”
”Iya.”
Entah kenapa mataku terasa panas, tetapi aku justru ingin tertawa. Ternyata selama ini aku tidak sendirian dan perasaan yang selama bertahun-tahun kusembunyikan bukan hanya milikku.
Aku mengangkat wajah dan menatapnya.
“Aku juga suka sama kamu.”
Rivano terdiam.
“Serius?”
Aku mengangguk.
“Serius.”
Malam itu, di tengah keramaian Braga, dua orang yang telah saling mengenal sejak kecil akhirnya mengakui sesuatu yang sebenarnya telah lama tumbuh di antara mereka. Persahabatan kami berubah menjadi sesuatu yang baru. Sesuatu yang lebih indah.

Aku tidak tahu bagaimana kisah kami akan berakhir. Mungkin suatu hari nanti kami akan berjalan bersama lebih jauh. Mungkin juga kehidupan akan membawa kami ke jalan yang berbeda. Tetapi untuk saat ini, aku ingin menikmati setiap langkah yang kami jalani.
-jika kamu benar-benar mencintainya, maka kuat-kuatlah dalam menunggu. entah itu berakhir temu atau berakhir buntu
********

