Inspirasi
Tak Perlu Bakat Menjadi Pemalas, Gengs!
Oleh: Pak Lian Nalut

Masihkah kita menganggap sikap malas itu persoalan? Atau justru sudah berubah menjadi gaya hidup yang diterima zaman? Toh gaya hidup mager (malas gerak), rebahan, gampang lelah, game online dan bermedsos semakin diminati, lebih-lebih oleh kaum milenial dan Gen Z dan apa pun dilakukan di tempat tidur.
Entah apa yang menarik dari tempat tidur. Bahkan, sebagian orang mengaku godaan bantal dan selimut susah dilawan. Sebab, keduanya sering jadi simbol kehangatan. Belum lagi aktivitas di depan layar gawai yang nyaris tak membakar kalori, tapi justru menghabiskan berjam-jam dalam keseharian.
Nah, di sinilah malas menjadi menarik untuk dibicarakan. Malas mungkin tidak lahir begitu saja. Ia bisa tumbuh dari kebiasaan yang kita ulang setiap hari, dari lingkungan yang membuat kita nyaman, dari pola asuh, teknologi, hingga cara kita dididik.
Jangan-jangan sekolah ikut berperan. Ketika pendidikan dipersempit menjadi urusan buku, nilai, prestasi, ijazah, sambil menomorduakan kerja tangan atau kerja fisik (opus manuale, Latin). Istilah kerja tangan dalam tulisan selanjutnya diringkas menjadi kerja. Padahal, pekerjaan sederhana seperti menyapu, mengepel, mencuci atau bercocok tanam tidak kalah mendidik dibandingkan buku-buku pelajaran.
Mungkin kecurigaan saya dianggap tak punya dasar. Toh, saya hanya guru muda yang kebetulan mengajar, bukan motivator viral yang bisa menjelaskan segala persoalan dalam 30 menit video. Namun, ada beberapa kenyataan yang membuat saya terus bertanya-tanya. Mengapa jumlah pengangguran jauh lebih mengerikan daripada jumlah jomblo? Mengapa mereka yang berprestasi di bangku sekolah tiba-tiba kebingungan menyikapi hidup? Mengapa banyak orang mampu mengerjakan soal ujian, tetapi kesulitan mengurus hidupnya sendiri?
Berarti, tanpa kita sadari, selama ini ada jarak yang menganga antara sekolah dan kehidupan. Kalau dalam bahasa anak asrama St. Aloysius FIC yang akrab dengan keringat mencari makan, pengetahuan seharusnya berdialog dengan kehidupan nyata. Sayangnya, keduanya jarang bertemu.
Kerja Sebelum Buku
Baik, izinkan saya sedikit bernostalgia.
Dalam kehidupan keluarga, pendidikan pertama saya adalah kerja. Yakni belajar dari pekerjaan sehari-hari. Dan itu jauh sebelum saya mengenal buku, sekolah, atau berbagai teori pendidikan yang saya kenal saat ini. Saya masih ingat, berbagai pekerjaan sederhana yang dilakukan, seperti belajar memegang sendok makan, menyapu, mencuci piring, dan pekerjaan rumah lainnya. Dari pengalaman itu tumbuh satu keyakinan dalam diri saya. Kerja itu bukan suatu beban, melainkan bagian dari hidup sehari-hari.
Jadi, sejak kecil, saya sudah terbiasa dengan pendidikan karakter versi rumah. Dan ayah saya adalah penggerak utamanya. Kalau ibu? Ibu adalah cinta pertama sekaligus penjaga cerita keluarga. Ibu bisa bercerita tentang seratus hal dalam satu kesempatan. Di ujung cerita, selalu ada nasihat yang panjang.
Kelak ketika dewasa, saya mulai memahami bahwa anggapan tentang laki-laki yang selalu menguasai perempuan tidak selalu benar. Dalam banyak hal, justru perempuanlah yang sering sibuk mengubah laki-laki. Mulai dari cara berpakaian, cara bicara, sampai kapan harus pulang rumah. Sementara laki-laki sibuk ingin mengubah dunia.
Sosok bapak, yang saya ingat, tipe irit bicara, jarang nasihat, apalagi perintah secara langsung. Tapi ia selalu menyelesaikan apa yang ia mulai. Dari beliau saya belajar bahwa apa pun pekerjaan yang sudah dimulai harus diselesaikan. Kalau sekarang ada istilah mager, ayah saya justru mengajarkan filosofi yang sebaliknya: pantang pulang sebelum beres.
Kebiasaan kerja di rumah perlahan membentuk cara saya belajar dan berpikir. Ketika kuliah saya menemukan ungkapan dari dosen yang terasa sangat akrab, ”tugas yang baik itu adalah tugas yang selesai. Kuliah yang baik adalah kuliah yang selesai” Kalimat itu sederhana, tetapi kemudian berpengaruh terhadap proses belajar saya. Membaca buku sampai selesai, betah duduk sampai benar-benar mengerti, tidak merasa pintar karena memahami sedikit hal.
O iya, satu lagi. Saya juga sampai pada keyakinan bahwa bukan tugas orang lain untuk mencintai dan membahagiakan diri kita, melainkan tugas diri kita sendiri. Seperti kerja yang baik adalah kerja yang selesai, hidup juga menuntut kita menyelesaikan tanggung jawab kita sendiri.
Makna Kerja
Apa sebenarnya makna kerja bagi hidup manusia? Kerja barangkali setua sejarah manusia itu sendiri. Karena itulah manusia sering disebut homo faber (homo: manusia, faber: menghasilkan sesuatu). Artinya, manusia bisa menghasilkan sesuatu dengan kerja. Barangkali itulah sebabnya kita merasa tidak enak atau minder, kalau terlalu lama tidak melakukan apa-apa. Ada dorongan dalam diri kita untuk membuat, memperbaiki, membangun, atau menghasilkan sesuatu.
Sehubungan dengan itu, kita patut berterima kasih kepada Karl Marx, pria yang berkumis tebal dari Jerman. Dalam Economic and Philosophic Manuscripts of 1844, Marx melihat kerja bukan sekadar aktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidup. Melalui aktivitas produktif, manusia berhubungan dengan alam, menghasilkan sesuatu, sekaligus mewujudkan dirinya sebagai manusia. Dengan kata lain, kerja tidak hanya mengubah sesuatu di luar diri kita, tetapi juga ikut membentuk diri kita sendiri.
Karena itu, pertanyaan seperti, apa yang bisa saya lakukan? dan apa yang bisa saya hasilkan? pada akhirnya hanya dapat dijawab melalui kerja nyata. Bukan dengan rebahan, apalagi menunggu motivasi dari konten-konten berbagi.
Dalam hal ini, berpikir dan merenung memang penting, tapi tidak akan berarti tanpa tindakan. Misalnya, diskusi yang berhenti di wacana, tanpa pernah dijalankan jelas tidak menghasilkan apa-apa. Kita bisa berjam-jam membahas pentingnya kebersihan, tapi halaman tetap penuh sampah kalau tidak ada yang mengambil sapu. Pun kita bisa berdiskusi tentang disiplin, tapi pembicaraan itu kehilangan makna kalau tidak dibiasakan.
Barangkali, di situlah kita menemukan makna kerja yang lebih dalam. Kerja bukan hanya cara mencari uang. Kerja adalah cara manusia mengekspresikan diri secara bebas, sehingga ia bisa bertumbuh menjadi dirinya sendiri. Apa yang kita kerjakan hari ini, sedikit banyak, ikut menentukan siapa kita (to be) maupun memiliki apa (to have) kita kelak.
Bahkan semua harapan, termasuk urusan masa depan seperti memenangkan hati mertua, tetap butuh kerja. Tidak cukup dengan modal doa dan tampang yang meyakinkan. Jadi, menjadi jomblo atau tuna asmara itu baik, meskipun sering kali menyedihkan.
Sekolah dan Krisis Etos Kerja
Sikap malas tampaknya menjadi hal yang biasa di lingkungan sekolah. Lingkungan yang sering disebut sebagai tempat pembentukan karakter ternyata masih lemah dalam prosesnya. Membentuk karakter memang tidak mudah, kalau tidak didukung oleh kesadaran pribadi setiap orang.
Hal ini terlihat dalam keseharian. Ada yang cuek ketika yang lain menyapu lorong-lorong sekolah di pagi hari. Bahkan, ada yang menganggap mengepel atau membersihkan WC sebagai pekerjaan rendahan. Ketika diminta bekerja, ada yang berkata, ”nanti dapat apa, Pak?” Bahkan ketika disampaikan dengan bahasa yang komunikatif, masih ada yang menjawab, “ini bukan tugas saya, saya sibuk belajar.”
Sementara itu, ketika melihat ada yang menyiram tanaman di pagi hari, kita sering membiarkannya begitu saja tanpa merasa terganggu. Padahal, orang yang memiliki kepekaan hati akan gelisah ketika melihat orang lain bekerja sendirian. Apa sebab? Saya percaya, kerja sama lahir dari kegelisahan etis. Yaitu, hati yang peka melihat kebutuhan orang lain dan terdorong untuk memberikan diri.
Tanpa kepekaan itu, kita juga akan melihat kerja sebagai aktivitas biasa-biasa saja, bahkan beban yang harus dihindari. Kalau merujuk konep alienasi Marx, kondisi ini dapat dibaca sebagai bentuk awal dari alienasi diri dalam skala kecil. Yakni ketika kerja tidak dilihat sebagai pemberian diri, melainkan sekedar sesuatu yang harus diselesaikan.
“Tiga kalimat terakhir susah dipahami, pak?
“Tenang, tidak semua hal harus dipahami sekarang, dik. Nanti waktu yang beri jawaban.”
“Lah, kok ngono, Pak”
Akibatnya, kerja sederhana seperti membersihkan lingkungan sekolah tidak lagi dipahami sebagai bagian dari pembentukan karakter, tetapi hanya sebagai pekerjaan kelas bawah yang tidak bernilai. Ada satu ungkapan yang cukup menohok, “Kalau memungut sampah Anda anggap rendahan, maka sejatinya ilmu yang Anda banggakan tidak ada gunanya di mata seorang petugas sampah.”
Lagi pula, atas dasar apa kita merendahkan pekerjaan tertentu? Berpijak pada pandangan Paus Fransiskus dalam audiensi umumnya pada 19 Agustus 2015, ia menegaskan bahwa kerja itu panggilan hidup yang luhur. Kerja itu suci. Bahkan sama sucinya dengan berdoa. Karena itu, merendahkan pekerjaan tertentu menunjukkan kegagalan memahami bahwa setiap kerja yang jujur memiliki nilai kemanusiaan yang sama.
Akhirnya, kita diajak untuk meyakini bahwa, kerja bukan sekadar kegiatan fisik. Kerja adalah sekolah karakter. Sekolah itu sunyi dan tidak viral. Tapi, ia melatih setiap orang untuk tekun, bertanggung jawab, dan tidak mudah menyerah. Tangan yang terbiasa bekerja membentuk pikiran yang tangguh dan hati yang kuat.
Gimana, masih mau mager dan rebahan lagi, gengs? Jadi pemalas memang tak perlu bakat, tapi kehidupan selalu memberi ganjaran lebih besar pada kerja keras, bukan pada alasan.
***

