Inspirasi
Seni Sebagai Cara Hidup (Art of Living)

“Seni bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan. Maka, ketika ada yang menuduh seni itu unfaedah, barangkali mereka belum memahami arti seni itu sendiri. Sama seperti ungkapan bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan, ketahuilah, mungkin belum tahu ke mana harus belanja.”
Mula-mula saya perlu tegaskan, tulisan ini bukan membahas cinta. Meskipun cinta sering kali butuh seni, tapi pengalaman cinta teramat subjektif untuk dibahas secara umum. Fokus tulisan ini adalah tentang seni. Namun, bukan seni sebagai teori seperti yang kita pelajari di kelas atau karya seni tertentu, melainkan cara kita menjalani hidup (Art of Living).
Baik, apa itu seni? Secara gampang, seni adalah cara manusia memberi arti bagi kehidupan. Karena itu, seni tidak hanya hadir dalam musik, lukisan atau teater, tetapi juga dalam cara kita berpikir, bersikap, dan berinteraksi dengan sesama. Ada seni berbicara yang menarik (retorika), seni mendengarkan dengan hati (empati), seni menuntut ilmu (pembelajaran), dan seni membangun pertemanan. Bahkan, ada seni mencintai dan tentu ini Anda banget. Termasuk ketika cinta harus bertepuk sebelah tangan. Wishh..tapi tenang, kita tidak sedang membahas itu, nggeh.
Ada pula seni mimimpin orang lain (leadership), yang biasanya dimulai dari memimpin diri sendiri. O iya, satu lagi, seni merawat diri (self love), yakni olah perasaan, olah pikiran sebelum bertindak, lalu olah potensi agar kita makin bertumbuh. Sebab, bertumbuh juga merupakan sebuah seni, yang dalam pendidikan sering disebut growth mindset.
Jadi, seni tidak seruwet, serumit yang kita pikirkan selama ini. Seni adalah keseharian kita. Pandangan ini sejalan dengan pemikiran John Dewey, seorang tokoh pendidikan dari Amerika. Dalam bukunya Art as Experience, menegaskan bahwa habitat seni bukan hanya di museum atau galeri, apalagi di konten kanal-kanal video berbagi.
Seni itu hadir ketika kita sungguh-sungguh menghayati apa yang kita lakukan. Saat kita menikmati keindahan sunset, mendengarkan lagu favorit, membuat kerajinan tangan atau sekedar menikmati secangkir kopi adalah bagian dari pengalaman seni. Sehingga, bagi Dewey, yang penting bukanlah aktivitasnya apa, tapi cara kita mengalaminya.
Tambahan lagi, seni bagi Dawey dapat menjadi perekat sosial. Contoh yang paling jelas ialah musik. Musik membuat orang tertawa bersama, bernyanyi bersama dan merasa lebih dekat satu sama lain. Nah, kalau Dewey masih hidup hari ini, mungkin beliau juga akan bingung. Bagaimana mungkin lagu Lu Veronika Ko atau MBG Mas Bahlil Ganteng begitu viral. Rupanya, seni memang punya cara yang unik untuk masuk ke hidup kita. Bedanya, kalau rumus fisika harus dihafal, lagu-lagu itu kadang hafal sendiri. He he
Begitulah pentingnya seni. Seni itu menggoda. Ia selalu punya cara mencintai dan membahagiakan kita. Seni membuat hidup kita lebih kaya, lebih gembira dan lebih indah. Bayangkan jika hidup kita tanpa seni. Mungkin hidup kita tetap berjalan, tetapi akan terasa lebih hambar dan membosankan. Nah, kalau hidup kita sekarang terasa serius dan bikin cepat tua, jangan-jangan kita kekurangan seni.
Namun, seni bukan sekadar urusan indah-indahan, gengs. Keindahan yang dihasilkan seni bukan hanya menyenangkan mata atau telinga, tapi juga mengandung nilai yang lebih dalam. Konon, keindahan dalam seni itu identik dengan kebaikan.
Saya teringat pada St. Thomas Aquinas yang pernah mengatakan bahwa keindahan dan kebaikan memiliki hubungan yang sangat erat. Apa yang indah itu baik, dan apa yang baik itu indah. Bahkan, apa yang indah dan baik sering kali dipandang sebagai pantulan dari kebaikan Tuhan sendiri.
Karena itu, menghargai seni bukan sekadar menghasilkan karya, tetapi juga membentuk karakter. Misalnya, ketika kita melihat teman membantu temannya yang kesulitan belajar. Kita sering menyebut tindakan itu sebagai sesuatu yang indah. Bukan karena bentuknya, melainkan karena kebaikan yang ada di dalamnya.
Sekali lagi, seni bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan. Maka, ketika ada yang menuduh seni itu unfaedah, barangkali mereka belum memahami arti seni itu sendiri. Sama seperti ungkapan bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan, ketahuilah mungkin ia belum tahu ke mana harus belanja.
Setiap Orang adalah Seniman Terhebat
Kalau seni itu cara hidup, maka sebenarnya setiap orang (sekurang-kurangnya) adalah seniman terhebat untuk diri dan hidupnya sendiri, pencari makna, penemu dan pelaksana prinsip untuk dirinya sendiri. Kok, sendiri terus ya? Hehe
Jadi, setiap hari kita sebenarnya sedang berkarya. Berkarya di sini bukan cuma soal gambar, musik, atau kerajinan tangan, tapi juga soal bagaimana kita membentuk diri lewat pilihan dan tindakan sehari-hari. Masalahnya, salah satu penyakit kita sekarang adalah sering bertindak tanpa berpikir, atau sebaliknya, terlalu banyak berpikir tapi tidak pernah benar-benar bertindak. Akhirnya, proses berkarya dalam hidup tidak berjalan dengan baik.
Padahal, karya tidak lahir dari pikiran semata, melainkan dari pikiran yang diwujudkan dalam tindakan. Karena itu, berkarya sering kali dimulai dari hal-hal sederhana yang kita lakukan setiap hari. Setiap pelajaran yang dijalani dengan sungguh-sungguh, setiap persahabatan yang dirawat, setiap buku yang dibaca sampai selesai, setiap kesalahan yang perbaiki merupakan bagian dari proses membentuk karya itu sendiri. Maka, pertanyaannya bukan apakah kita seorang seniman, tetapi karya seperti apa yang sedang kita ciptakan dari hidup kita sendiri
Kakek buyut kita, Michel Foucault, seorang pemikir sosial, juga pernah menegaskan bahwa setiap orang dapat menjadikan hidupnya sebagai karya seni. Ia memberi contoh, seperti pelukis yang membuat lukisan, maka kita juga dapat mengolah hidup kita menjadi sebuah karya. Cara berpikir, cara berbicara, cara belajar, dan cara memperlakukan orang lain adalah goresan-goresan yang membentuk hidup kita.
Jadi, kalau selama ini kita merasa tidak bisa melukis, tidak bisa menyanyi, atau tidak bisa bermain musik, tenang saja. Sekurang-kurangnya kita tetap seniman untuk hidup kita sendiri. Maka, berusaha menjalani hidup orang lain, bukanlah tandingan bagi hidup kita. Tak ada hidup yang lebih wow untuk ditempuh selain hidup kita sendiri. Lagian, ngapain menjalani hidup orang lain, kurang kerjaan apa?
Punya Bakat Saja Tidak Cukup
Seni tidak hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga tentang kemampuan mengembangkan potensi diri. Tidak ada seorang pun yang dilahirkan kosong. Setiap orang membawa potensi yang dapat dilatih, diasah, dan dikembangkan hingga menjadi kebiasaan. Pendek kata, potensi hanya berkembang melalui pembiasaan.
Pembiasaan itu berteman akrab dengan effort, kerja keras, motivasi, dan konsistensi. Karena itu, ketika kita ingin mengembangkan bakat, fokus utama kita bukanlah hasil akhir, melainkan proses belajar yang membuat kita sedikit demi sedikit menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Saya ingat kisah Kisah Cass Daley, seorang penyanyi dan komedian terkenal dari Amerika. Ia membuktikan bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh apa yang kita anggap sebagai kelebihan. Saat pertama kali tampil bernyanyi, ia merasa malu karena giginya tonggos sehingga berusaha menyembunyikannya. Akibatnya, ia terlihat canggung dan menjadi bahan tertawaan penonton.
Lalu, ada seorang penonton laki-laki yang melihat bakat Cass Daley dan memberi nasihat, “jangan menyembunyikan kekuranganmu, bernyanyilah dengan bebas dan percaya diri.” Cass Daley mengikuti nasihat itu. Ia berhenti memikirkan kekurangannya dan mulai fokus menyanyi. Sejak saat itu, ia tampil lebih lepas, berhasil menjadi bintang film, serta pemenang berbagai kompetisi. Kisah ini mengajarkan kita bahwa sering kali yang menghambat kita bukanlah kekurangan yang kita miliki, melainkan ketakutan untuk menjadi diri sendiri.
Namun, percaya diri saja juga tidak cukup. Bakat hanya akan berkembang jika diberi ruang untuk bertumbuh. Hanya saja, tak sedikit orang yang belum sungguh-sungguh mengembangkan potensi, karena alasan cukup beragam. Merasa tidak punya waktu, menunggu bantuan orang lain, menganggap ada orang yang lebih hebat, atau bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.
Atau jangan-jangan kita masih percaya pada mitos bahwa potensi dapat berkembang dengan sendirinya. Rasanya mustahil! Potensi hanya akan tumbuh jika dirawat dan dilatih. Yang menarik, sebagian besar hambatan yang kita rasakan sebenarnya tidak sungguh-sungguh ada. Hambatan itu sering kali hanyalah pikiran yang kita ciptakan sendiri di kepala.
Maka, pertanyaan pentingnya sekarang adalah bagaimana menciptakan perubahan dalam diri? Mulainya dari mana? Semua perubahan selalu dimulai dari cara berpikir, yang kemudian membentuk cara bersikap dan bertindak.
Konkretnya, mulailah menjadi kritikus bagi diri sendiri. Apa minat kita? Apa kemampuan yang kita miliki? Lalu, karya hidup seperti apa yang ingin kita ciptakan? Setelah itu, perkuat dengan visualisasi. Bayangkan diri kita berhasil agar memberi arah pada langkah yang akan ditempuh.
Selanjutnya, ambil langkah nyata. Sekarang, bukan nanti. Langkah itu harus realistis, spesifik, dan berbasis waktu. Misalnya, saya akan berlatih musik selama 20 menit setiap malam sebelum tidur. Target ini sederhana, tetapi mudah dilakukan secara konsisten. Jika ingin menjadi penulis, ciptakan stimulus yang mendukung. Letakkan buku-buku bacaan di samping bantal tidur dan biasakan menulis satu paragraf jurnal setiap hari. Mungkin terlihat kecil, tetapi kebiasaan-kebiasaan kecil itulah yang perlahan membentuk perubahan besar.
Jadi, yang paling penting bukanlah rencana yang sempurna, melainkan keberanian untuk memulai. Karena itu, segera lakukan. Jangan terlalu banyak menimbang atau menunggu waktu yang dianggap tepat. Sering kali, langkah pertama adalah bagian yang paling sulit. Namun, begitu kita memulainya, perubahan sudah sedang berlangsung.
Kreativitas Tumbuh di Sekolah
Ketika seni dimaknai sebagai cara hidup, maka sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan juga ruang ekspresi dan pertumbuhan. Di sekolah, setiap orang memiliki kesempatan untuk mengungkapkan perasaan dan gagasan melalui berbagai bentuk kreativitas. Di sinilah minat dan potensi siswa mendapat ruang untuk berkembang, baik dalam bidang akademik maupun dalam keterampilan seperti musik, seni rupa, sastra dan berbagai bidang lainnya.
Sehubungan dengan itu, Ki Hajar Dewantara pernah menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya sebagai upaya mencerdaskan pikiran, tetapi juga membentuk rasa, cipta, dan karsa. Karena itu, sekolah mesti menumbuhkan kepekaan terhadap keindahan, kreativitas, dan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian pelajaran seni bukanlah pelengkap pendidikan, tetapi bagian penting dari proses pembentukan manusia yang utuh.
Namun, sekolah yang kreatif tetap saja bergantung pada setiap orang di dalamnya. Ia muncul dari kesadaran personal sekaligus kesadaran bersama untuk terus belajar dan berkembang. Saya menggarisbawahi kata kesadaran, sebab sering kali hambatan terbesar dalam pengembangan diri bukan karena kurangnya fasilitas, minimnya role model, atau rendahnya motivasi.
Justru yang kerap menghambat adalah kita terlalu sibuk dengan hal-hal sepele. Merasa tidak diterima, takut apa kata orang, terlalu baper saat dikritik, diputusin pacar, postingan sedikit yang like, pesan tak dibalas, jerawat dimuka, dan sebagainya. Padahal, energi yang kita habiskan untuk memikirkan hal-hal tersebut bisa digunakan untuk belajar keterampilan baru, membaca buku, berlatih musik, menulis, atau berkarya.
Nah, yang paling penting sekarang bukan apakah kita menjadi pria atau wanita idaman di mata orang lain. Tapi, bagaimana kita belajar, berkembang, dan berproses, bahkan sampai lelah sekalipun. Kita mesti memiliki kemampuan membedakan mana yang perlu dipikirkan dan mana yang perlu dilepaskan.
Memangnya ada orang yang sudah beres dengan urusan dirinya sendiri? bukankan manusia mengurus dirinya sampai meninggal dunia? Memang benar bahwa tidak ada orang yang benar-benar selesai dirinya. Bahkan ilmuwan atau guru besar pun tetap punya masalah pribadi. Bedanya, mereka tidak membiarkan masalah-masalah kecil menghabiskan seluruh energinya. Mereka hanya memilih untuk fokus berkembang dan bermanfaat bagi orang lain. Nah, daripada terus larut dalam hal-hal kecil, lebih baik kita gunakan energi kita untuk belajar, berkembang, dan berkarya.
Baik, sebelum kita mulai berkreativitas hari ini, saya akhiri dengan satu kalimat. Mencintai seni berarti memberi ruang bagi diri kita untuk terus berkarya dan bertumbuh. Sebab ketika kita mencintai seni, perlahan-lahan kita akan menyadari bahwa seni pun sedang mencintai kita.
Tentang Penulis
Pak Lian Nalut adalah guru Pendidikan Agama Katolik dan Pancasila di SMA PL Santo Lukas Pemalang. Ia memiliki minat pada ilmu teologi dan filsafat, olahraga dan seni musik. Melalui tulisan-tulisannya, ia mengajak pembaca untuk memaknai pengalaman sehari-hari dengan lebih reflektif.

