Spiritualitas
Belajar, Bersahabat


Bagi seorang pelajar, sekolah adalah laboratorium sosial. Artinya, sekolah juga menjadi tempat untuk membangun hubungan yang bermakna dengan orang lain. Di sekolah kita berjumpa dengan guru dan teman, dan hubungan dengan mereka sama pentingnya dengan buku-buku pelajaran. Di antara hubungan itu, persahabatan adalah salah satu yang paling dekat dengan kita.
Persahabatan itu mesti dilandasi oleh semangat kasih. Sebagaimana hal itu mengalir dari spiritualitas Yayasan Pangudi Luhur, “Allah adalah kasih.” Kasih itu bisa hadir tidak selalu dalam tindakan besar. Tapi juga dalam hal-hal sederhana, seperti saling menyapa, nama yang diingat, berbagi senyum yang mungkin tidak mengubah dunia, tapi cukup membuat hari terasa lebih ringan. Lebih-lebih hari Senin. Hehe
Dalam persahabatan, ada satu hal yang lebih luas untuk direnungkan, yaitu arah hidup itu sendiri. Banyak yang percaya bahwa persahabatan akan lebih bermakna jika kita terhubung dengan kesadaran akan Tuhan sebagai sumber dan tujuan hidup.
Demikian pula dalam proses belajar. Proses dan hasil belajar kita akan bermakna kalau Tuhan terlibat. Sebaliknya, setiap usaha untuk menjauh dari Tuhan, justru membawa hidup ke arah yang kacau-balau. Mau bukti? Nanti waktu yang menjawab sendiri. Hehe
“Persahabatan dan proses belajar kita akan bermakna kalau Tuhan terlibat. Sebaliknya, ketika kita mulai menjauh dari Tuhan, hidup bisa kehilangan arah dan kacau-balau.”

